PT JRBM dan PEREDAM Tinjau Kawasan Konservasi Maleo di Batumanangis

oleh -25 Dilihat
oleh

BOLSEL, Update24 – PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) kembali menunjukkan komitmennya dalam melindungi satwa endemik Sulawesi yang kini terancam punah.

Jumat 23 Januari 2026, dipimpin General Manager External Relation and Security PT JRBM, Andreas Saragih didampingi Manager Corporate Social Responsibility (CSR) Rudi Rumengan, melakukan survei lokasi bersama Pemuda Relawan Molibagu (PEREDAM).

Survey tersebut, dipusatkan di kawasan hutan Batumanangis, Molibagu, Kecamatan Bolaang Uki, Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Selain melakukan peninjauan di lokasi hatchery atau tempat penetasan telur Maleo, tim PT JRBM dan PEREDAM juga melihat langsung potensi pengelolaan gula aren (gula semut/pinasu) yang dikelola masyarakat setempat.

Seperti diketahui, PT JRBM merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan, namun mereka memiliki komitmen untuk tetap mengedepankan pelestarian satwa endemik, termasuk pemberdayaan masyarakat lokal di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Salah satu penjaga Maleo kawasan Batumanangis, Basri Lamase, ketika melakukan pendampingan terhadap tim mengungkapkan, dirinya masih aktif mengumpulkan, merawat dan menetaskan telur Maleo, sebelum akhirnya dilepasliarkan ke alam bebas. Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi telur dari ancaman predator.

“Saat ini saya bisa mengumpulkan lebih dari 30 butir telur sebulan. Proses penetasan memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan,” aku Basri.

Namun demikian, Basri mengaku masih membutuhkan dukungan tambahan, khususnya dari pihak perusahaan, agar upaya konservasi dapat berjalan lebih optimal.

“Kami sangat berharap ada perhatian dan dorongan dari perusahaan agar populasi Maleo bisa terus meningkat,” tambahnya.

Menyikapi hal tersebut, General Manager External Relation and Security PT JRBM, Andreas Saragih, mengaku terkesan dengan kondisi kawasan konservasi Maleo Batumanagis.

Menurut dia, kawasan tersebut memiliki potensi besar, meski masih membutuhkan perbaikan infrastruktur pendukung lainnya.

“Lokasinya cukup baik dan perlu mendapatkan perhatian serius. Ini akan kami tindaklanjuti melalui pembahasan bersama manajemen,” kata Andreas.

Senada disampaikan Manager CSR PT JRBM, Rudi Rumengan. Ia mengaku senang dapat kembali terlibat langsung dalam kegiatan pelepasliaran anakan burung Maleo, sekaligus melihat kondisi hatchery telur satwa langka ini.

“Pengembangan kawasan ini membutuhkan sinergi semua pihak, baik pemerintah daerah, komunitas PEREDAM, maupun elemen masyarakat lainnya,” ujar Rudi.

Sementara itu, pendiri sekaligus Pembina PEREDAM, Gaguk Pranagia Prasetyo, menyampaikan apresiasi atas langkah nyata PT JRBM yang turun langsung ke lapangan.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT JRBM yang menunjukkan kepedulian nyata terhadap konservasi burung Maleo,” ujar Tio, sapaan akrabnya.

Tio berharap, hasil survei ini dapat berlanjut pada dukungan berkelanjutan, termasuk pembangunan fasilitas konservasi yang memadai.

“Meski jaraknya cukup jauh, perusahaan tetap hadir langsung. Kami berharap PT JRBM bisa terus mendukung perlindungan Maleo secara berkesinambungan,” tutupnya.

Sekedar menambahkan, selain meninjau konservasi Maleo, rombongan PT JRBM bersama PEREDAM juga mengunjungi lokasi pengelolaan gula semut atau pinasu. Mereka bahkan ikut mencicipi langsung hasil olahan petani lokal yang selama ini turut menjaga keseimbangan alam dan habitat Maleo. (*/Hen)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.